<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>aKBarSOep</title>
	<atom:link href="http://akbarsoep.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akbarsoep.wordpress.com</link>
	<description>iTs aLL AbOuT GenDeR</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Apr 2009 09:39:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='akbarsoep.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>aKBarSOep</title>
		<link>http://akbarsoep.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://akbarsoep.wordpress.com/osd.xml" title="aKBarSOep" />
	<atom:link rel='hub' href='http://akbarsoep.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sepuluh Kesalahan Dalam Mendidik Anak</title>
		<link>http://akbarsoep.wordpress.com/2009/04/23/sepuluh-kesalahan-dalam-mendidik-anak/</link>
		<comments>http://akbarsoep.wordpress.com/2009/04/23/sepuluh-kesalahan-dalam-mendidik-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 09:39:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbarsoep</dc:creator>
				<category><![CDATA[tRikS n TiPs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarsoep.wordpress.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Sepuluh Kesalahan Dalam Mendidik Anak Oleh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai orang tua bertanggung jawab terhadap amanah ini. Tidak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar ; dan termasuk menghianati amanah Allah. Adapun rumah, adalah sekolah pertama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=158&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sepuluh Kesalahan Dalam Mendidik Anak</strong><br />
Oleh<br />
Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd</p>
<p style="text-align:justify;">Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai orang tua bertanggung jawab terhadap amanah ini. Tidak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar ; dan termasuk menghianati amanah Allah.<span id="more-158"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Kumpulan dari beberapa rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat. Bagi seorang anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan mendapatkan pendidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, disinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.</p>
<p style="text-align:justify;">BAHAYA LALAI DALAM MENDIDIK ANAK</p>
<p style="text-align:justify;">Orang tua memiliki hak yang wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya. Demikian pula anak, juga mempunyai hak yang wajib dipikul oleh kedua orang tuanya. Disamping Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua. Allah juga memerintahkan kita untuk berbuat baik (ihsan) kepada anak-anak serta bersungguh-sungguh dalam mendidiknya. Demikian ini termasuk bagian dari menunaikan amanah Allah. Sebaliknya, melalaikan hak-hak mereka termasuk perbuatan khianat terhadap amanah Allah. Banyak nash-nash syar’i yang mengisyaratkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman.</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” [An-Nisa : 58]</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhamamd) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” [Al-Anfal : 27]</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban terhadap yang dipimpin. Maka, seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya” [Hadits Riwayat Al-Bukhari]</p>
<p style="text-align:justify;">“Artinya : Barangsiapa diberi amanah oleh Allah untuk memimpin lalu ia mati (sedangkan pada) hari kematiannya dalam keadaan mengkhianati amanahnya itu, niscaya Allah mengharamkan sorga bagianya” [Hadits Riwayat Al-Bukhari]</p>
<p style="text-align:justify;">SEPULUH KESALAHAN DALAM MEDIDIK ANAK</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun banyak orang tua yang mengetahui, bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua, atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalai atau salah dalam mendidik anak itu bermacam-macam bentuknya ; yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap durhaka kepada orang tua, maupun kenakalan remaja.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini sepuluh bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">[1]. Menumbuhkan Rasa Takut Dan Minder Pada Anak<br />
Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin dan lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut : Takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Misalnya takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita-cerita tentang hantu, jin dan lain-lain.Dan yang paling parah tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakut-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak-anak semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa sakit.</p>
<p style="text-align:justify;">[2]. Mendidiknya Menjadi Sombong, Panjang Lidah, Congkak Terhadap Orang Lain. Dan Itu Dianggap Sebagai Sikap Pemberani.<br />
Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi. Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya : takut berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka berbohong, atau rasa takut kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;">[3]. Membiasakan Anak-Anak Hidup Berfoya-foya, Bermewah-mewah Dan Sombong.<br />
Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqomah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakah muru’ah (harga diri) dan kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;">[4]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak<br />
Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik.</p>
<p style="text-align:justify;">[5]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak, Ketika Menangis, Terutama Anak Yang Masih Kecil.<br />
Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.</p>
<p style="text-align:justify;">[6]. Terlalu Keras Dan Kaku Dalam Menghadapi Mereka, Melebihi Batas Kewajaran.<br />
Misalnya dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lainnya. Ini kadang terjadi ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">[7]. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran<br />
Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara. Misalnya : dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega menitipkan anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban dirinya. Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai hidup. Naa’udzubillah mindzalik</p>
<p style="text-align:justify;">[8]. Tidak Mengasihi Dan Menyayangi Mereka, Sehingga Membuat Mereka Mencari Kasih Sayang</p>
<p style="text-align:justify;">Diluar Rumah Hingga Menemukan Yang Dicarinya.<br />
Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas –waiyadzubillah-. Seorang anak perempuan misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya ia mencari perhatian dari laki-laki di luar lingkungan keluarganya. Dia merasa senang mendapatkan perhatian dari laki-laki itu, karena sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela menyerahkan kehormatannya demi cinta semu.</p>
<p style="text-align:justify;">[9]. Hanya Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya Saja.<br />
Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Bila kasih sayang tidak di dapatkan dirumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">[10]. Terlalu Berprasangka Baik Kepada Anak-Anaknya<br />
Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya. Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa hanyalah penyesalan tak berguna.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah sepuluh kesalahan yang sering dilakukan orang tua. Yang mungkin kita juga tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu, marilah berusaha untuk terus menerus mencari ilmu, terutama berkaitan dengan pendidikan anak, agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa depan mereka. Kita selalu berdo’a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah serta berakhlak mulia. Wallahu a’lam bishshawab.</p>
<p style="text-align:justify;">[Disadur oleh Ummu Shofia dari kitab At-Taqshir Fi Tarbiyatil Aulad, Al-Mazhahir Subulul</p>
<p style="text-align:justify;">Wiqayati Wal Ilaj, Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd]</p>
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VII/1424H/20004M, Penerbit Yayasan Lajnah</p>
<p style="text-align:justify;">Istiqomah Surakarta. Jl Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton, Gondangrejo – Solo]</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber : <a href="http://www.almanhaj.or.id">www.almanhaj.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarsoep.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarsoep.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarsoep.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarsoep.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarsoep.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarsoep.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarsoep.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarsoep.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarsoep.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarsoep.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarsoep.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarsoep.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarsoep.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarsoep.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=158&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarsoep.wordpress.com/2009/04/23/sepuluh-kesalahan-dalam-mendidik-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ebc560ada6878e13c6214e4692257ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbarsoep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kEBo n BaDAk</title>
		<link>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/12/20/kebo-n-badak/</link>
		<comments>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/12/20/kebo-n-badak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 09:26:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbarsoep</dc:creator>
				<category><![CDATA[pHotOS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarsoep.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[ <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=152&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_153" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-153" title="FoREver in LOvE" src="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/12/dsc_0033ed.jpg?w=480&#038;h=600" alt="FoREver in LOvE" width="480" height="600" /><p class="wp-caption-text">FoREver in LOvE</p></div>
<p> </p>
<div id="attachment_156" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-156" title="AkSan" src="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/12/dscn8743.jpg?w=480&#038;h=640" alt="AkSan" width="480" height="640" /><p class="wp-caption-text">AkSan</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarsoep.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarsoep.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarsoep.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarsoep.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarsoep.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarsoep.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarsoep.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarsoep.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarsoep.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarsoep.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarsoep.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarsoep.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarsoep.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarsoep.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=152&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/12/20/kebo-n-badak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ebc560ada6878e13c6214e4692257ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbarsoep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/12/dsc_0033ed.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FoREver in LOvE</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/12/dscn8743.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">AkSan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perwujudan Kesetaraan Gender Menguntungkan Anak</title>
		<link>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/12/18/perwujudan-kesetaraan-gender-menguntungkan-anak-2/</link>
		<comments>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/12/18/perwujudan-kesetaraan-gender-menguntungkan-anak-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 08:34:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbarsoep</dc:creator>
				<category><![CDATA[all aBouT GeNDeR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarsoep.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Penghapusan diskriminasi gender dan pemberdayaan perempuan akan mempunyai pengaruh yang sangat besar dan positif bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan anak. Kesetaraan gender memberikan keuntungan ganda yang bermanfaat bagi kesehatan perempuan dan anak, serta menunjang kesehatan dan perkembangan keluarga, masyarakat dan bangsa. Jika perempuan berdaya untuk hidup seutuhnya dan produktif, maka anak dan keluarga akan sejahtera. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=142&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penghapusan diskriminasi gender dan pemberdayaan perempuan akan mempunyai pengaruh yang sangat besar dan positif bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan anak. <span id="more-142"></span>Kesetaraan gender memberikan keuntungan ganda yang bermanfaat bagi kesehatan perempuan dan anak, serta menunjang kesehatan dan perkembangan keluarga, masyarakat dan bangsa. Jika perempuan berdaya untuk hidup seutuhnya dan produktif, maka anak dan keluarga akan sejahtera.</p>
<p>Hal itu terungkap dalam Laporan Situasi Anak Dunia 2007 yang diluncurkan United Nation Children&#8217;s Fund (Unicef) di Jakarta, Selasa (23/1). Hadir dalam peluncuran itu Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono dan Kepala Perwakilan Unicef di Indonesia Gianfranco Rotigliano.</p>
<p>Dalam kesempatan itu Meutia menyatakan laporan itu membuktikan bahwa kesetaraan gender akan membantu tujuan pembangunan milenium. &#8220;Laporan tersebut menunjukkan bahwa perempuan yang sehat, berpendidikan, dan berdaya akan mempunyai anak-anak yang juga sehat, berpendidikan dan percaya diri. Pengaruh perempuan dalam pembuatan keputusan rumah tangga telah menunjukkan dampak positif terhadap gizi, kesehatan, dan pendidikan anak-anak,&#8221; katanya.</p>
<p>Selama dua d</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">de pembangunan pemberdayaan perempuan di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, lanjut Meutia, telah dapat dilihat kiprah perempuan </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> dalam berbagai peran dan posisi strategis. Meski demikian, berbagai data masih menunjukkan adanya kesenjangan perempuan dan laki-laki di berbagai bidang kehidupan dan sektor pembangunan strategis, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi/ ketenagakerjaan, hukum dan politik.</p>
<p>Meskipun </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> telah menunjukkan kemajuan di bidang peningkatan partisipasi untuk anak sekolah pada tingkat SD, SMP dan SMA, namun masih terjadi kesenjangan gender.</p>
<p>&#8220;Angka buta aksara pada anak perempuan mencapai 13,2 persen sedangkan laki-laki hanya 6 persen dan rata-rata lama sekolah laki-laki 7,3 tahun, sementara anak perempuan hanya 6,1 tahun,&#8221; katanya.</p>
<p><strong>Akses</strong></p>
<p>Sementara itu, Gianfranco menyatakan Unicef mengidentifikasi tiga hal penting yang memerlukan upaya lebih lanjut dan mendesak guna memperbaiki kesetaraan kaum perempuan di Indonesia, yaitu akses ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, memerangi akar penyebab eksploitasi seksual, serta perbaikan layanan kesehatan bagi perempuan hamil.</p>
<p>&#8220;Tindakan di bidang ini akan mendatangkan manfaat yang praktis dan langsung bisa dirasakan kaum perempuan dan masyarakat,&#8221; katanya.</p>
<p>Dalam laporan itu disebutkan, secara global meskipun status perempuan sudah mengalami kemajuan selama beberapa dasawarsa terakhir, kehidupan jutaan perempuan masih dibayangi diskriminasi, ketidakberdayaan, dan kemiskinan.</p>
<p>Anak perempuan dan perempuan yang terkena HIV/AIDS menanggung lebih banyak beban daripada laki-laki dan perempuan sering berpenghasilan lebih sedikit daripada laki-laki, meskipun pekerjaan mer</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> sejajar.</p>
<p>Khusus di bidang pendidikan, laporan itu menyebutkan </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Indonesia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> telah membuat kemajuan yang baik dalam hal kesetaraan di tingkat pendidikan dasar, SD dan SMP. Tetapi semakin tinggi jenjang pendidikannya, semakin terbatas akses anak-anak. Beberapa kendala yang menghambat tercapainya kesetaraan gender di bidang pendidikan adalah belum memadainya program-program yang secara langsung ditujukan untuk mengatasi masalah akses dan partisipasi anak-anak yang kurang beruntung. [A-22]</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.suarapembaruan.com/">http://www.suarapembaruan.com</a></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarsoep.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarsoep.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarsoep.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarsoep.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarsoep.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarsoep.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarsoep.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarsoep.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarsoep.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarsoep.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarsoep.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarsoep.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarsoep.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarsoep.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=142&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/12/18/perwujudan-kesetaraan-gender-menguntungkan-anak-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ebc560ada6878e13c6214e4692257ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbarsoep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Dan Kesetaraan Gender</title>
		<link>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/12/18/pendidikan-dan-kesetaraan-gender/</link>
		<comments>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/12/18/pendidikan-dan-kesetaraan-gender/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 08:30:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbarsoep</dc:creator>
				<category><![CDATA[all aBouT GeNDeR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarsoep.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Hantaran Pendidikan merupakan Hak Asasi Manusia. Pendidikan yang tidak diskriminatif akan menguntungkan, baik bagi perempuan maupun laki-laki, yang pada akhirnya akan mempermudah terjadinya kesetaraan dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki. Gender sebagaimana didefinisikan secara umum adalah pembedaan peran dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki sebagai hasil konstruksi sosial budaya masyarakat . Tataran bias gender [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=140&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Hantaran<br />
Pendidikan merupakan Hak Asasi Manusia. Pendidikan yang tidak diskriminatif akan menguntungkan, baik bagi perempuan maupun laki-laki, yang pada akhirnya akan mempermudah terjadinya kesetaraan dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki. <span id="more-140"></span>Gender sebagaimana didefinisikan secara umum adalah pembedaan peran dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki sebagai hasil konstruksi sosial budaya masyarakat . Tataran bias gender banyak terjadi dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Misalnya peran gender terjadi dalam hal mengakses lembaga pendidikan yang menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi perempuan.<br />
Allah mewajibkan hambanya untuk memperoleh pendidikan yang tinggi, tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh pendidikan. Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal. Hamba ideal dalam hal ini adalah bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual maupun karier profesional, tidak mesti didominasi oleh satu jenis kelamin saja. Peluang untuk meraih prestasi maksimum dalam pendidikan terbuka lebar untuk dua insan tersebut. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya dihadapan Allah sang Pencipta . Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Hujurat (49:13) sebagai berikut yang artinya;<br />
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa &#8211; bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”<br />
Apa Itu Gender?<br />
BANYAK laki-laki mengatakan, sungguh tidak mudah menjadi laki-laki karena masyarakat memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadapnya. Mereka haruslah sosok kuat, tidak cengeng, dan perkasa.<br />
Ketika seorang anak laki-laki diejek, dipukul, dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih besar, ia biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih dan malu. Sebaliknya, ia ingin tampak percaya diri, gagah, dan tidak memperlihatkan kekhawatiran dan ketidakberdayaannya.<br />
Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak laki-laki yang senantiasa bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya. Kenyataannya juga menunjukkan, menjadi perempuan pun tidaklah mudah. Stereotip perempuan yang pasif, emosional, dan tidak mandiri telah menjadi citra baku yang sulit diubah. Karenanya, jika seorang perempuan mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap egois, tidak rasional dan agresif. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan.<br />
Keadaan di atas menunjukkan adanya ketimpangan atau bias gender yang sesungguhnya merugikan baik bagi laki-laki maupun perempuan. Membicarakan gender tidak berarti membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja.<br />
Dari penjelasan tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa gender merupakan pembagian sifat, peran, kedudukan, dan tugas laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi social budaya masyarakat berdasarkan norma, adat kebiasaan, dan kepercayaan masyarakat. Gender bukan kodrat atau takdir Tuhan, tetapi gender berkaitan dengan keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan bagaimana seharusnya perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur, ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada.<br />
Kesetaran Gender dalam Pendidikan<br />
Isu kesetaraan gender sejalan dengan perkembangan jaman yang didukung oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendorong perkembangan ekonomi dan globalisasi informasi, yang memungkinkan kaum perempuan bekerja dan berperan sama dengan kaum lelaki. Hal yang sangat penting adalah bahwa kesetaraan gender itu harus didukung dengan perlindungan hukum dan berbekal pendidikan yang memadai, karena perjuangan kesetaraan gender yang hakiki adalah perjuangan kesetaraan gender dalam dunia pendidikan dan perlindungan hukum.<br />
Pendidikan adalah produk atau konstruksi sosial, dan celakanya ada jenis kelamin dalam masyarakat yakni laki-laki dan perempuan yang salah satunya tidak selalu diuntungkan akibat dari konstruksi tersebut. Kesenjangan pada sektor pendidikan telah menjadi faktor utama yang paling berpengaruh terhadap bias gender secara menyeluruh. Hampir pada semua sektor, seperti lapangan pekerjaan, jabatan, peran di masyarakat, sampai pada masalah menyuarakan pendapat, antara laki-laki dan perempuan yang menjadi faktor penyebab terjadinya bias gender adalah karena latar belakang pendidikan yang belum setara.<br />
Kita tidak perlu jauh-jauh untuk menganalisa bagaimana bias gender terjadi, di lingkungan keluarga maupun sekolah kita sudah bisa menilik bagaimana keadaan bias gender terjadi dan ini akan terus-menerus berlangsung manakala tidak ada penyelesaian. Misalnya, dalam buku ajar siswa, banyak ditemukan gambar maupun rumusan kalimat yang tidak mencerminkan kesetaraan gender. Sebut saja gambar seorang pilot selalu laki-laki karena pekerjaan sebagai pilot memerlukan kecakapan dan kekuatan yang “hanya” dimiliki oleh laki-laki. Sementara gambar guru yang sedang mengajar di kelas selalu perempuan karena guru selalu diidentikkan dengan tugas mengasuh atau mendidik. Ironisnya siswa pun melihat bahwa meski guru-gurunya lebih banyak berjenis kelamin perempuan, tetapi kepala sekolahnya umumnya laki-laki. Rumusan kalimat tersebut mencerminkan sifat feminim bagi perempuan serta sifat maskulin dan bagi laki-laki.<br />
Bias gender tampak sekali dalam realita kehidupan diatas dan ini tidak hanya berdampak negatif bagi siswa atau anak perempuan tetapi juga bagi anak laki-laki. Anak perempuan diarahkan untuk selalu tampil cantik, lembut, dan melayani. Sementara laki-laki diarahkan untuk tampil gagah, kuat, dan berani. Ini akan sangat berpengaruh pada peran sosial mereka di masa datang.<br />
Singkatnya, ada aturan-aturan tertentu yang dituntut oleh masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki. Jika perempuan tidak dapat memenuhinya ia akan disebut tidak tahu adat dan kasar. Demikian pula jika laki-laki tidak dapat memenuhinya ia akan disebut banci, penakut atau bukan lelaki sejati.<br />
Padahal menurut William Pollacek dalam Real Boys menunjukkan penemuannya, sebenarnya, bayi laki-laki secara emosional lebih ekspresif dibandingkan bayi perempuan. Namun ketika sampai pada usia sekolah dasar, ekspresi emosionalnya hilang. Laki-laki pada usia lima atau enam tahun belajar mengontrol perasaan-perasaannya dan mulai malu mengungkapkannya .<br />
Penyebabnya adalah pertama, ada proses menjadi kuat bagi laki-laki yang selalu diajari untuk tidak menangis, tidak lemah, dan tidak takut. Kedua, proses pemisahan dari ibunya, yakni proses untuk tidak menyerupai ibunya yang dianggap masyarakat sebagai perempuan lemah dan harus dilindungi. Meski berat bagi anak laki-laki untuk berpisah dari sang ibu, namun ia harus melakukannya jika tidak ingin dijuluki sebagai “anak mami”.<br />
Dengan adanya pelabelan-pelabelan seperti di atas, perempuan dianggap mempunyai tingkat kemampuan untuk meraih pendidikan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki yang menyebabkan perempuan belum bisa berperan lebih besar. Untuk itu, perlu dibuka seluas-seluasnya akses pendidikan dengan memajukan program-progrm sosialisasi kesetaraan gender agar bias gender tidak terus berlangsung.<br />
Sehingga kejadian-kejadian buruk seringkali menimpa kaum perempuan dikarenakan kurangnya pengetahuan atau pendidikan. Sehingga muncul teori-teori feminisme dalam wacana pendidikan yang juga dapat diperhitungkan sebagai bagian yang memperjuangkan kesetaraan gender dalam dunia pendidikan, ada empat teori besar feminisme yang secara singkat perlu dikemukakan di sini yang dikaitkan dengan masalah pendidikan, antara lain :<br />
I. Teori Feminisme Liberal.<br />
Teori ini memfokuskan diri pada pertanyaan-pertanyaan mengapa anak perempuan banyak mengalami kegagalan meraih pendidikan tinggi. Feminisme liberal lebih berfokus pada persoalan akses ke pendidikan, peningkatan partisipasi sekolah pada anak perempuan, menyediakan program-program pelayanan bagi anak perempuan dari keluarga yang kurang beruntung dan melakukan penuntutan kesetaraan pendidikan yang sifatnya tidak radikal atau tidak mengancam<br />
II. Teori Feminisme Radikal<br />
Teori radikal mencari persoalan sampai keakar-akarnya bertolak belakang persepsi mereka dengan kaum feminis liberal. Kaum feminis radikal melihat penyebab utama adanya ketidakadilan bagi perempuan di dalam dunia pendidikan adalah karena sistem patriarkhal yang berlaku di masyarakat setempat. Selain itu, juga melihat hubungan-hubunga kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, karena nya ini yang kemudian menentukan keterbelakangan perempuan perempuan di berbagai bidang.<br />
III. Teori Feminisme Marxis dan Sosialis<br />
Bagi teori ini, ketidaksetaraan dalam pendidikan terjadi karena institusi-institusi pendidikan justru menciptakan kelas-kelas ekonomi. Pendidikan telah dijadikan bisnis yang lebih melayani kelas ekonomi atas. Pendidikan telah kehilangan makna bukan untuk mencerdaskan bangsa melainkan untuk menguntungkan pendapatan pribadi. Hubungan kekuasaan antara ekonomi kuat dan ekonomi lemah terlihat gamblang sehingga kelompok miskin tereksploitasi dan berada dalam kebodohan terus menerus. Bahasa-bahasa yang sering digunakan dalam teori ini adalah yang berkaitan dengan kelas, produksi, kemiskinan dan seterusnya.<br />
IV. Teori Poststrukturalis dan Postmodernisme<br />
Teori ini mengkritik definisi pendidikan yang lebih berpusat pada laki-laki (male-centered) tidak dipertanyakan lagi atau sudah dianggap wajar dan semestinya. Teori ini juga membongkar semua anggapan-anggapan yang diterima begitu saja. Konsentrasi yang dilakukan teori ini adalah melihat semua diskursus-diskursus yang ada (teks-teks) yang ada dalam dunia pendidikan yang melakukan operasi bawah sadar sehingga terjadi penaturalan bahasa-bahasa yang bias gender. Oleh sebab itu, teori ini bukan saja mengajak mereka yang berkepentingan dengan pendidikan untuk merubah kurikulum tetapi melihat bagaimana kurikulum bias gender terbentuk dan beroperasi secara luas.<br />
Perjuangan untuk menyuarakan kesetraan gender itu tidak akan betul-betul bisa terwujud apabila kesetaraan gender dalam pendidikan belum bisa direalisasikan. Artinya perjuangan kesetaraan gender harus dimulai dengan kesetaraan antara kaum perempuan dan kaum lelaki, dalam pendidikan sehingga mempunyai peluang yang sama untuk mengakses lapangan pekerjaan dan berperan dalam berbagai kehidupan.<br />
Gender Mainstreaming<br />
Isu kesetaraan gender memang telah didengung-dengungkan oleh berbagai pihak, bahkan kebanyakan mahasiswa sangat getol untuk menyuarakan isu tersebut, akan tetapi jika isu tersebut hanya digembar-gemborkan kesana-kemari tanpa adanya keseriusan dari pihak terkait, hal ini hanya akan menjadi percuma dan sia-sia belaka.<br />
Untuk meminimalisir atau bahkan menghilangkan bias gender agar tecapai kesetaraan dan keadilan gender perlu sebuah upaya serius dari berbagai pihak. Mulai dari lingkungan keluarga, ayah dan ibu mulai menanamkan kesetaraan dan keadilan gender dengan cara mereka saling menghormati dan melayani, tidak lagi didasarkan atas “apa kata ayah”. Jadi ornag tua yang berwawasan gender diperlukan bagi pembentukan mentalitas anak bik laki-laki maupun perempuan yang kuat dan percaya diri.<br />
Pola penerapan kesetaraan dan keadilan gender yang kedua adalah dari pihak sekolah. Kesetaraan gender dalam proses pembelajaran memerlukan keterlibatan Depdiknas sebagai pengambil kebijakan di bidang pendidikan, sekolah secara kelembagaan dan terutama guru. Dalam hal ini diperlukan standardisasi buku ajar yang salah satu kriterianya adalah berwawasan gender. Selain itu, guru akan menjadi agen perubahan yang sangat menentukan bagi terciptanya kesetaraan dan keadilan gender dalam pendidikan melalui proses pembelajaran yang peka gender.<br />
Perlu strategi lagi, selain dari dua upaya diatas guna mempercepat perwujudan kesetaraan dan keadilan gender tersebut, yang dikenal sebagai istilah Pengarusutamaan Gender (PUG) atau disebut juga Gender Mainstreaming .<br />
“Gender mainstreaming is a strategy for integrating gender concern is the analysis formulation and monitoring policies, programs and projects”Gender Mainstreaming adalah suatu strategi kesetaraan dan keadilan gender dengan memperbaiki kondisi dan posisi perempuan agar bisa setara dengan laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat dan pembangunan. (Konferensi Wanita Sedunia Beijing, 1995)<br />
Istilah Gender Mainstreaming di Indonesia kemudian disepakati oleh berbagai pihak dalam pertemuan-pertemuan yang dikoordinasikan oleh Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan menjadi “Pengarusutamaan Gender (PUG)” yang berarti akak selalu memasukkan atau memikirkan isu gender sebagai salah satu inti kegiatan utama dan bukan menomor-duakan, dilakukan sambil lalu, dipinggirkan, dianak tirikan atau diabaikan.<br />
Pada hakekatnya pengarusutamaan gender adalah suatu strategi yang dilakukan untuk menciptakan kondisi kesetaraan dan keadilan gender (KKG) yaitu upaya untuk menegakkan hak-hak perempuan dan laki-laki atas kesepakatan yang sama, pengakuan yang sama, dan penghargaan yang sama oleh masyarakat, seperti yang tertuang dalam Intruksi-Intruksi Presiden Nomor : 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam pembangunan Nasional.<br />
Dengan PUG ini, pemerintah diharapkan dapat bekerja lebih efisien dan efektif dalam membuat kebijakan-kebijakan public yang adil dan responsive terhadap isu gender. Kebijakan dan pelayanan public yang dilakukan melalui upaya promosi yang gencar dan tepat sasaran ( pemerintah, organisasi-organisasi, unit paling kecil yakni keluarga, dll) agar dapat mengarah kepada pencapaian kesetaraan dan keadilan gender, serta program dan perundang-undangan yang adil dan responsive gender.<br />
Ada beberapa batasan dalam pengarusutamaan gender, antara lain :<br />
I. Memasukkan permasalahan gender dalam program dan agenda pembangunan<br />
II. Strategi dan proses untuk mengintegrasikan masukan yang responsive gender dalam kebijakan, petunjuk-petunjuk program / proyek, kegiatan serta pelayanan di tiap-tiap tingkatan<br />
III. Satu usaha untuk memasukkan kerangka gender ke dalam rencana kegiatan dan pelaksanaan program sektoral<br />
IV. Pengakuan adanya suatu upaya arusutama gender di mana gagasan, keputusan dan penyebaran sumber dilakukan untuk pencapaian tujuan pembangunan<br />
V. Bukan hanya memadukan isu gender ke dalam arus utama, tetapi mengubah arus utama agar lebih tanggap dan kondusif terhadap tujuan dan kesetaraan dan keadilan gender dalam pembangunan.<br />
Pandangan Islam Terhadap Kesetaraan Gender dalam Pendidikan<br />
Islam sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan. Yang membedakan adalah ketakwaannya dihadapan Allah SWT. Islam juga mewajibkan untuk menuntut ilmu pengetahuan, sebagaimana hadist nabi yang artinya;<br />
“Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim dan (muslimah)”<br />
Hal ini terbukti bahwa islam tidak membedakan dalam hal memperoleh ilmu pengetahuan, yaitu ketika zaman Rasulullah banyak wanita yang menonjol pengetahuannya yang menjadi rujukan sekian banyak tokoh yaitu Aisyah istri Nabi saw.<br />
Namun, memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada perbedaan kodrat antara laki-laki dan perempuan, yaitu :<br />
• Perbedaan jasmaniah (biologis)<br />
• Perbedaan kejiwaan (psikologis)<br />
• Perbedaan menjalankan agama<br />
Akhir kata<br />
Dari pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan adalah produk atau konstruksi sosial, dan celakanya ada jenis kelamin dalam masyarakat yakni laki-laki dan perempuan yang salah satunya tidak selalu diuntungkan akibat dari konstruksi tersebut. Kesenjangan pada sektor pendidikan telah menjadi faktor utama yang paling berpengaruh terhadap bias gender secara menyeluruh. Hampir pada semua sektor, seperti lapangan pekerjaan, jabatan, peran di masyarakat, sampai pada masalah menyuarakan pendapat, antara laki-laki dan perempuan yang menjadi faktor penyebab terjadinya bias gender adalah karena latar belakang pendidikan yang belum setara.<br />
Isu kesetaraan dan keadilan gender dalam dunia pendidikan memang sudah begitu lama didengung-dengungkan, akan tetapi bukti konkrit pencapaian masih tumpang tindih, bias gender masih terjadi dimana-mana. Dikarenakan kurang pahamnya tentang pengertian gender ataupun peran yang diberikan masyarakat dan adat serta budaya terhadap laki-laki maupun perempuan.<br />
Sehingga perlu dijelaskan secara tepat mengenai pengertian gender yang tidak lain adalah pembagian sifat, peran, kedudukan, dan tugas laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi social budaya masyarakat berdasarkan norma, adat kebiasaan, dan kepercayaan masyarakat.<br />
Hal ini sangat merugikan bagi baik kaum laki-laki maupun perempuan, sehingga munculah upaya untuk meminimalisir bias gender yang kemudian akhirnya muncul berbagai macam teori-teori feminisme, antara lain:<br />
I. Teori Feminsme Liberal.<br />
II. Teori Feminsme Radikal<br />
III. Teori Feminsme Marxis dan Sosialis<br />
IV. Teori Poststrukturalis dan Postmodernisme<br />
Juga ada strategi untuk menanggulanginya yang kemudian dikenal dengan Gender Mainstreaming.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarsoep.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarsoep.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarsoep.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarsoep.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarsoep.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarsoep.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarsoep.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarsoep.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarsoep.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarsoep.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarsoep.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarsoep.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarsoep.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarsoep.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=140&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/12/18/pendidikan-dan-kesetaraan-gender/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ebc560ada6878e13c6214e4692257ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbarsoep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budaya Jawa dan Kesetaraan Gender</title>
		<link>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/12/18/budaya-jawa-dan-kesetaraan-gender/</link>
		<comments>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/12/18/budaya-jawa-dan-kesetaraan-gender/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 08:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbarsoep</dc:creator>
				<category><![CDATA[all aBouT GeNDeR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarsoep.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Pada dasarnya, semua orang sepakat bahwa perempuan dan laki-laki berbeda. Manakala kita melihat karakteristik dari masing-masing secara fisik, kita akan dengan mudah membedakannya. Perbedaan alami yang dikenal dengan perbedaan jenis kelamin sebenarnya hanyalah segala perbedaan biologis yang dibawa sejak lahir antara perempuan dan laki-laki. Seandainya saja perbedaan itu tidak menjadikan ketidakadilan, tidak menjadikan pertentangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=137&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pendahuluan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Pada dasarnya, semua orang sepakat bahwa perempuan dan laki-laki berbeda. Manakala kita melihat karakteristik dari masing-masing secara fisik, kita akan dengan mudah membedakannya. Perbedaan alami yang dikenal dengan perbedaan jenis kelamin sebenarnya hanyalah segala perbedaan biologis yang dibawa sejak lahir antara perempuan dan laki-laki. Seandainya saja perbedaan itu tidak menjadikan ketidakadilan, tidak menjadikan pertentangan dan tidak ada pen</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">nan dan penindasan satu di antara yang lain, mungkin tidaklah menjadi sebuah masalah. Pada kenyataannya, perbedaan itu telah merambat pada salah satu pihak merasa dan dianggap<span id="more-137"></span><!--more--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">lebih tinggi derajatnya, lebih berkuasa dan lebih segalanya dari pihak lain. Hal inilah yang memunculkan adanya ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan atau lebih dikenal dengan istilah kesetaraan gender telah menjadi pembicaraan yang hangat akhir-akhir ini. Melalui perjalanan panjang untuk meyakinkan dunia bahwa perempuan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">telah mengalami diskriminasi hanya karena perbedaan jenis kelamin dan perbedaan secara sosial, akhirnya pada tahun 1979, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui konferensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Konferensi ini sebenarnya telah diratifikasi oleh Indonesia pada tahun 1984 menjadi UU No. 7/1984, tetapi jarang disosia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">lisa</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">sikan dengan baik oleh negara. Konferensi maupun Undang-Undang tersebut pada kenyataannya tidak juga sanggup menghapus diskriminasi yang dialami oleh perempuan. Di seluruh dunia masih ada perempuan yang mengalami segala bentuk kekerasan (kekerasan fisik, mental, sosial dan ekonomi) baik di rumah, di tempat kerja maupun di masyarakat. Kita ambilkan saja contoh kasus, seorang perempuan, istri anggota DPRRI yang dengan tegar mensupport suami yang jelas-jelas melakukan perselingkuhan. Nampak s</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">li adanya ketidakadilan di sini. Laki-laki dengan seenaknya berbuat salah, sementara si perempuan dengan segala kelemahannya, dengan alasan keutuhan keluarga, kasihan anak-anak dan lain-lain tetap</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">menerima adanya penindasan batin dari laki-laki. Ada lagi kasus yang baru-baru ini beritanya sangat menghebohkan, yakni istri dari seorang da’i kondang yang rela dimadu serta mendukung suami dalam melakukan poligami. Dengan dalih dan alasan apapun, ketidakadilan nampak jelas di sini. Di sini kita tidak sedang mempermasalahkan boleh atau tidaknya berpoligami, tetapi lebih kepada perlakuan tidak adil terhadap perempuan. Ironis s</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">li, di saat kesetaraan gender sedang diperjuangkan, tingkah polah laki-laki yang merupakan <em>public figure </em>sangat menginjakinjak harga diri perempuan. Walaupun di berbagai media, para istri tersebut tegar, namun dari raut muka, penuturan kata-kata yang diucapkan jelas terasa bahwa si perempuan tersebut mengalami dan merasakan adanya ketidakadilan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Budaya Jawa dan Kesetaraan Gender</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Menelusuri garis wewenang dalam pembentukan, artikulasi dan pelaksanaan peraturan, banyak menyingkap hirarki-hirarki sosial dan bentukbentuk kekuasaan dalam kehidupan. Hirarki-hirarki ini dapat dikepalai oleh seorang lelaki atau perempuan yang kuat, berbagai koalisi sosial atau sumbersumber yang lebih besar, lebih abstrak dan lebih luas. Dalam bentuknya yang paling dasar, otoritas berdasarkan peraturan terkondisi secara biologis. Kepala rumah tangga, suami, para sesepuh, kakek kandung dan berbagai jenis orang-orang kuat lainnya memaksakan dan mempertahankan ketertiban dalam zona pengaruh mer</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">. Patriarki dalam masyarakat di seluruh dunia berkembang, tak terkecuali di Jawa. Perlahan dari peran yang dikembangkan dalam kebudayaan pra modern—di mana ukuran fisik dan seluruh sistem otot para lelaki yang lebih unggul, bersama dengan peran biologis wanita yang melahirkan anak—menghasilkan suatu pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin, yang masih berlaku hingga s</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">rang. Kaum lelaki menjadi penyedia kebutuhan hidup dan pelindung dalam menghadapi dunia di luar keluarga itu. Tanggung jawab yang mendalam sedemikian dapat memberikan otonomi dan kesempatan yang relatif besar. Pembagian kerja ini menyebabkan berkembangnya peran-peran sosial yang terbatas bagi kedua jenis kelamin, dan terciptanya perbedaan kekuasaan dalam beberapa hal lebih menguntungkan kaum lelaki. Jenjang wewenang yang berasal dari perbedaan biologis meluas secara mendalam ke dunia publik. Dewasa ini kaum lelaki mendominasi lembagalembaga ekonomi, politik dan keagamaan di mana-mana. Peraturan<em>Tanti </em>peraturan yang diartikulasikan mempengaruhi lingungan sebagian hanya karena lembaga dan kekuasaan yang mer</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI"> wakili tetap ada dan terus beroperasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Di Indonesia, di lingkungan pemerintahan maupun swasta, perempuan yang telah mempunyai kesempatan menduduki jabatan, belum sebanding dengan laki-laki. Padahal kalau ditengok dari segi jumlah, penduduk perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Meskipun kita sudah mempunyai menteri wanita, duta besar wanita, jendral wanita bahkan pernah, presiden wanita, namun itu semua masih kelihatan perbedaan yang sangat jauh jumlahnya bila dibandingkan dengan laki-laki yang menduduki jabatan tersebut. Dalam jumlah, perempuan merupakan mayoritas, ironinya, sebagian besar dari makhluk perempuan ini “tidak terlihat”. Kesempatan yang diberikan di bidang pendidikan dan peluang untuk menduduki jabatan eksekutif pada umumnya baru dinikmati oleh segelintir perempuan (Raharjo,1995).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Sebenarnya, kita telah mempunyai basis legal yang menjamin hak dan kesempatan bagi laki-laki dan perempuan. Akan tetapi masih banyak kendala budaya dan struktural yang membuat perempuan masih menghadapi kesulitan, khususnya dalam hal partisipasinya dalam mengambil keputusan dan kekuasaan. Kita dapat melihat lingkungan dan struktur budaya tidak banyak mendukung terciptanya partisipasi penuh dari perempuan dalam dunia politik maupun dalam mengambil keputusan. Dalam budaya Jawa, banyak istilah-istilah yang mendudukkan posisi perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Dan istilah-istilah itu sudah tertanam dalam dalam hati masyarakat, sehingga dimaklumi dan diterima begitu saja. Kita ambilkan saja contohnya, dalam istilah Jawa ada menyebutkan bahwa istri sebagai <em>kanca wingking</em>, artinya teman belakang, sebagai teman dalam mengelola urusan rumah tangga, khususnya urusan anak, memasak, mencuci dan lain-lain. Ada lagi istilah lain <em>suwarga nunut neraka katut</em>. Istilah itu juga diperuntukkan bagi para istri, bahwa suami adalah yang menentukan istri akan masuk surga atau neraka. Kalau suami masuk surga, berarti istri<span>  </span>juga akan masuk surga, tetapi kalau suami masuk neraka, walaupun istri berhak untuk masuk surga karena amal perbuatan yang baik, tetapi tidak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">berhak bagi istri untuk masuk surga karena harus <em>katut </em>atau mengikuti suami masuk neraka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Ada lagi istilah yang lebih merendahkan lagi bagi para istri, yaitu bahwa seorang istri harus bisa <em>manak, macak, masak </em>dan berapa kata yang berawal ‘m’ yang lain lagi. Bahwa seorang istri itu harus bisa memberikan keturunan, harus selalu berdandan untuk suaminya dan harus bisa memasak untuk suaminya. Istilah lain yang mel</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">t pada diri seorang perempuan atau istri yakni <em>dapur, pupur, kasur, sumur </em>dan mungkin masih ada akhiran “ur-ur” yang lain yang bisa diteruskan untuk dil</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">tkan pada perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Citra, peran dan status sebagai perempuan, telah diciptakan oleh budaya. Citra bagi seorang perempuan seperti yang diidealkan oleh budaya, antara lain, lemah lembut, penurut, tidak membantah, tidak boleh “melebihi” laki-laki. Peran yang diidealkan seperti pengelola rumah tangga, sebagai pendukung karir suami, istri yang penurut dan ibu yang <em>mrantasi</em>. Citra yang dibuat untuk laki-laki antara lain, “serba tahu”, sebagai panutan harus “lebih” dari perempuan, rasional, agresif. Peran laki-laki yang ideal adalah sebagai pencari nafkah keluarga, pelindung, “mengayomi”, sedangkan status idealnya adalah kepala keluarga (Raharjo, 1995).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Perempuan masih dianggap <em>the second class </em>yang sering disebut sebagai “warga kelas dua” yang keberadaannya tidak begitu diperhitungkan. Implikasi dari konsep dan <em>common sense </em>tentang pemosisian yang tidak seimbang telah menjadi kekuatan di dalam pemisahan sektor kehidupan ke dalam sektor “domestik” dan sektor “publik”, di mana perempuan dianggap orang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">yang berkiprah dalam sektor domestik sementara laki-laki ditempatkan dalam sektor publik. Ideologi semacam ini telah disyahkan oleh berbagai pranata dan lembaga sosial, yang ini kemudian menjadi fakta sosial tentang status dan peran yang dimainkan oleh perempuan (Abdullah, 1997).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Kajian Gender</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Gender penting untuk dipahami dan dianalisis untuk melihat apakah perbedaan yang bukan alami ini telah menimbulkan diskriminasi dalam arti perbedaan yang membawa kerugian dan penderitaan terhadap perempuan. Apakah gender telah memposisikan perempuan secara nyata menjadi tidak setara dan menjadi subordinat oleh pihak laki-laki. Gender adalah semua atribut sosial mengenai laki-laki dan perempuan, misalnya laki-laki digambarkan mempunyai sifat maskulin seperti keras, kuat, rasional, gagah. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Sementara perempuan digambarkan memiliki sifat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">feminin seperti halus, lemah, perasa, sopan, penakut. Perbedaan tersebut dipelajari dari keluarga, teman, tokoh masyarakat, lembaga keagamaan dan kebudayaan, sekolah, tempat kerja, periklanan dan media. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Gender berbeda dengan seks. Seks adalah jenis kelamin laki-laki dan perempuan dilihat secara biologis. Sedangkan gender adalah perbedaan laki-laki dan perempuan secara sosial, masalah atau isu yang berkaitan dengan peran, perilaku,tugas, hak dan fungsi yang dibebankan kepada perempuan dan laki-laki. Biasanya isu gender muncul sebagai akibat suatu kondisi yang menunjukkan kesenjangan gender (Suharti, 1995).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Istilah “gender” diperkenalkan untuk mengacu kepada perbedaanperbedaan antara perempuan dan laki-laki tanpa konotasi-konotasi yang sepenuhnya bersifat biologis. Jadi rumusan ‘gender’ dalam hal ini merujuk pada perbedaan-perbedaan antara perempuan dengan laki-laki yang merupakan bentukan sosial, perbedaan-perbedaan yang tetap muncul meskipun tidak di <span> </span>sebabkan oleh perbedaan-perbedaan biologis yang menyangkut jenis kelamin (McDonald dkk., 1999). Sejarah perbedaan gender (<em>gender differences</em>) antara manusia jenis lakilaki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. Oleh karena itu, terbentuknya perbedaan-perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya dibentuk, disosia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">lisa</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">sikan, diperkuat bahkan dikonstruksi secara sosial dan kultural melalui ajaran keagamaan maupun negara (Fakih, 1999).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Melalui proses panjang, sosia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">lisa</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">si gender tersebut akhirnya dianggap menjadi ketentuan Tuhan, seolah-olah bersifat biologis yang tidak bisa diubah lagi, sehingga perbedaan-perbedaan gender dianggap dan dipahami sebagai kodrat laki-laki dan kodrat perempuan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Hal ini terkadang menjadikan perempuan dianggap lebih rendah daripada laki-laki. Bahkan budaya yang telah terbentuk lama, hampir sebagian besar peran yang ditempelkan pada perempuan adalah peran yang sifatnya lemah, kurang menantang dan bersifat kedalam atau ranah domestik. Diskriminasi gender memang menjadi ciri khas hampir di setiap masyarakat manapun yang menganut sistem patriarki. Patriarki secara harafiah berarti kekuasaan bapak atau ‘patriakh (<em>patriach</em>)’. Istilah patriarki ini digunakan secara lebih umum untuk menyebut kekuasaan laki-laki, hubungan kuasa dengan apa laki-laki menguasai perempuan, dan untuk menyebut sistem yang membuat perempuan tetap dikuasai melalui bermacam-macam cara (Bhasin, 1996).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun, ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan gender termani-festasikan dalam pelbagai bentuk ketidakadilan, yaitu margina</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">lisa</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">si atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting alam keputusan politik, pembentukan stereotype atau melalui pelabelan negatif, kekerasan (<em>violence</em>), beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (<em>burden</em>), serta sosia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">lisa</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">si ideologi peran gender (Fakih, 1999).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Manifestasi ketidakadilan gender ini tidak bisa dipisah-pisahkan, karena saling berkaitan dan berhubungan, saling mempengaruhi secara dialektis. Manifestasi ketidakadilan gender ini tersosia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">lisa</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">si pada kaum laki-laki dan perempuan secara mantap, yang lambat laun perempuan menjadi terbiasa dan akhirnya menganggap peran gender itu seolah-olah merupakan kodrat. Lambat laun terciptalah suatu struktur dan sistem ketidakadilan gender yang diterima dan sudah tidak dapat lagi dirasakan ada sesuatu yang salah. Persoalan ini bercampur dengan kepentingan kelas, itulah mengapa justru banyak kaum kelas menengah, terpelajar yang ingin mempertahankan sistem dan struktur tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Ketidakadilan gender ini dikonstruksi melalui aturan hukum formal dan norma-norma yang tidak tertulis. Aturan hukum formal yang membuat ideologi resmi berlaku pada masyarakat dan institusi, sedangkan norma-norma yang tidak tertulis yang dipahami membentuk sikap dan perilaku seharihari dalam dunia nyata (Kabeer, 2005). Dua cara sosial ini, dianggap merupakan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">proses lazim yang umumnya diterima masyarakat meskipun terjadi di luar batas-batas keadilan hakiki. Sementara harus disadari bahwa aturan hukum formal adalah bentuk praktek kekuasaan yang umumnya dibuat untuk kepentingan dan tujuan yang menguntungkan si pembuat hukum tersebut. Ketidakadilan gender membentuk struktur hubungan produksi dan reproduksi dalam kelas-kelas yang berbeda. Contohnya: laki-laki mempunyai peran utama sebagai pencari nafkah rumah tangga s</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">ligus memainkan peranan yang cukup penting dalam menciptakan reproduksi pekerjaan yang tidak berbayar dalam ruang domestik yang umumnya dikaitkan dengan fungsi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">biologis perempuan sebagai perawat keluarga. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Secara kemasyarakatan peran ini diadopsi juga dalam kaitan tanggung jawab peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dalam hal ini terjadi ketidakadilan sumber daya laki-laki dan perempuan dalam hal menjalankan tanggung jawab, pengupahan dan pengakuan terhadap kontribusi masing-masing (Kabeer, 2005).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Merasa bahwa perempuan diperlakukan tidak adil di masyarakat karena adanya konsep gender membuat sebagian feminis ahli psikologi sadar dan menganalisis kesalahan dari teori gender. Mer</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> mengajak seluruh masyarakat terutama kaum perempuan untuk sadar bahwa selama ini mer</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"> diperlakukan tidak adil oleh konsep gender dan mengembangkan suatu konsep baru yang mengikis perbedaan perlakuan bagi perempuan dan laki-laki. Harus disadari bahwa konsep atau ideology gender membuat manusia jadi<span>  </span>terkotak-kotak. Konsep baru ini diharapkan dapat memberi kesempatan dan kedudukan yang sejajar bagi perempuan maupun laki-laki untuk membuat keputusan bagi dirinya sendiri tanpa harus berorientasi pada konsep gender (Millar, 1992).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV"><span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Penutup</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="SV">Untuk mewujudkan kesetaraan gender perlu dilakukan berbagai tindakan yang didasari komitmen kuat untuk mengangkat perempuan dari kemiskinan struktural mulai dari individu atau diri sendiri, masyarakat, negara dan dunia internasional. Tentu saja semuanya harus dimulai dari kemauan diri untuk berubah melakukan gerakan transformasi dan bukan gerakan balas dendam, di mana gerakan tersebut berupaya menciptakan hubungan antara sesama manusia yang secara fundamental lebih baik dan baru. Untuk memperjuangkan kesetaraan gender tidak sama dengan perjuangan perempuan melawan laki-laki. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Tidak sama s</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">eka</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">li! Namun persoalan penindasan terhadap perempuan bukanlah persoalan kaum laki-laki, melainkan persoalan sistem dan struktur dalam masyarakat (ketidakadilan gender).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Kesadaran yang diikuti kemauan untuk membongkar pemahaman diri sendiri dari alam bawah sadar ketidakadilan yang membelenggu akan terus menerus mendorong diri untuk melakukan perubahan yang lebih luas dalam masyarakat. Lama-kelamaan sesuatu yang tak tersentuh itu, yakni ‘ketidakadilan gender’, akan dapat diminamilisir bahkan diakhiri untuk tujuan kemaslahatan dan penghargaan hak asasi yang paling hakiki. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IT">Semuanya harus dimulai dari diri sendiri. Dari lingkungan yang paling kecil, keluarga. Tatanan budaya, khususnya budaya Jiwa yang sebenarnya adi luhung, janganlah malah dijadikan sebagai kambing hitam dalam menciptakan ketidakadilan gender.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IT">Pranata budaya jangan sampai menghalangi para perempuan untuk berkiprah dan menunjukkan eksistensinya dalam ranah publik. Sehingga antara budaya dan kesetaraan gender dapat berjalan seirama tanpa harus dipertentangkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Daftar Pustaka</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Irawan Abdullah, <em>Sangkan Paran Gender</em>, Pustaka pelajar, </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Yogyakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, 1997</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kamla Bhasin, <em>Menggugat Patriarki</em>, Bentang Budaya, </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Yogyakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, 1996</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mandy Mc Donald, E. Sprenger, I Dubel, <em>Gender dan Perubahan Organisasi</em>, INSIST dan REMDEC, </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Amsterdam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, 1999</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mansour Fakih, Dr, <em>Analisis Gender dan Transformasi Sosial</em>, Pustaka Pelajar, </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Yogyakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, 1996</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Millar J. Cross – National Research on Women in the European Community in Women’s Studies International Forum, 1992</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Naila Kabeer, Gender Mainstreaming in Poverty Eradication and the Millenium Development Goals, CIDA, </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">London</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">:Commonwealth Secretariat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">http://www.the commonwealth.org/gender, 2005 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Retno Suhapti, Gender dan Permasalahannya, Bul Psikologi, </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, 1995</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Yulfira Raharjo, <em>Gender dan Pembangunan</em>, Puslitbang Kependudukan dan Ketenagakerjaan, LIPI (PPT-LIPI), </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jakarta</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, 1995</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Cermin Dunia Kedokteran, No. 145, PT Kalbe Farma, Jakarta,2004</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Hotmauli Sidabalok, S.H.C.N, MH, Keyakinan Sosial Gender dan Ketidakadilan yang Ditimbulkannya, disampaikan dalam Pelatihan Pengarusutamaan Gender Bagi Dosen Muda UNS, Surakarta, 23-24 Agustus 2006.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Jurnal Komunikasi Massa</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI">Vol. 1, No. 1, Juli 2007, 25-34</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;" lang="FI"></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarsoep.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarsoep.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarsoep.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarsoep.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarsoep.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarsoep.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarsoep.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarsoep.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarsoep.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarsoep.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarsoep.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarsoep.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarsoep.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarsoep.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=137&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/12/18/budaya-jawa-dan-kesetaraan-gender/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ebc560ada6878e13c6214e4692257ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbarsoep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TouR dE BanDuNG</title>
		<link>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/11/13/tour-de-bandung/</link>
		<comments>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/11/13/tour-de-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 01:42:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbarsoep</dc:creator>
				<category><![CDATA[pHotOS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarsoep.wordpress.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[TouR dE BanDuNG 5-8 Feb 08    <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=121&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">TouR dE BanDuNG 5-8 Feb 08</p>
<div id="attachment_129" class="wp-caption aligncenter" style="width: 465px"><a href="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn0816.jpg"><img class="size-full wp-image-129" title="Di KaWAh puTiH" src="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn0816.jpg?w=480" alt="Di KaWAh puTiH"   /></a><p class="wp-caption-text">Di KaWAh puTiH</p></div>
<p style="text-align:center;"> </p>
<div id="attachment_147" class="wp-caption aligncenter" style="width: 468px"><img class="size-full wp-image-147" title="PetIK StRaWbeRrY" src="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn0849.jpg?w=480" alt="PetIK StRaWbeRrY"   /><p class="wp-caption-text">PetIK StRaWbeRrY</p></div>
<p> </p>
<div id="attachment_149" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-149" title="dI tAngKUbAN PRau" src="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn0746.jpg?w=480&#038;h=360" alt="dI tAngKUbAN PRau" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">dI tAngKUbAN PRau</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarsoep.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarsoep.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarsoep.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarsoep.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarsoep.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarsoep.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarsoep.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarsoep.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarsoep.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarsoep.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarsoep.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarsoep.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarsoep.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarsoep.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=121&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/11/13/tour-de-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ebc560ada6878e13c6214e4692257ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbarsoep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn0816.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Di KaWAh puTiH</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn0849.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PetIK StRaWbeRrY</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn0746.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dI tAngKUbAN PRau</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Si BoLaNG</title>
		<link>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/11/05/si-bolang/</link>
		<comments>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/11/05/si-bolang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 04:03:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbarsoep</dc:creator>
				<category><![CDATA[pHotOS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarsoep.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Ni dia Si Bolang dari Jaban&#8230;&#8230;..        <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=90&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:center;">Ni dia Si Bolang dari Jaban&#8230;&#8230;..</div>
<p> </p>
<div id="attachment_109" class="wp-caption aligncenter" style="width: 268px"><a href="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn07853.jpg"><img class="size-full wp-image-109" title="Si BoLaNG 1" src="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn07853.jpg?w=480" alt="Si BoLaNG 1"   /></a><p class="wp-caption-text">Si BoLaNG 1 Si BoLaNG 2 Si BoLaNG 3 Si BoLaNG 4</p></div>
<p>   </p>
<p> </p>
<div id="attachment_116" class="wp-caption aligncenter" style="width: 291px"><a href="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn0789.jpg"><img class="size-full wp-image-116" title="Si BOlanG 5" src="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn0789.jpg?w=480" alt="Si BOlanG 5"   /></a><p class="wp-caption-text">Si BOlanG 5</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarsoep.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarsoep.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarsoep.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarsoep.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarsoep.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarsoep.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarsoep.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarsoep.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarsoep.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarsoep.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarsoep.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarsoep.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarsoep.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarsoep.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=90&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/11/05/si-bolang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ebc560ada6878e13c6214e4692257ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbarsoep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn07853.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Si BoLaNG 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn0789.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Si BOlanG 5</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>dAffA aKSaN CaHYanINgRat</title>
		<link>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/11/03/photo-gallery/</link>
		<comments>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/11/03/photo-gallery/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 04:58:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbarsoep</dc:creator>
				<category><![CDATA[pHotOS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarsoep.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Daffa Aksan Cahyaningrat, 15 Desember 2004.  <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=65&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:center;">Daffa Aksan Cahyaningrat, 15 Desember 2004.</div>
<div class="mceTemp mceIEcenter"><a href="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/ceria.jpg"></a></div>
<div id="attachment_73" class="wp-caption aligncenter" style="width: 360px"><img class="size-full wp-image-73 " title="Dapidut" src="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/ceria.jpg?w=480" alt="Dapidut"   /><p class="wp-caption-text">Dapidut</p></div>
<p> </p>
<div id="attachment_101" class="wp-caption aligncenter" style="width: 322px"><a href="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscf75931.jpg"><img class="size-full wp-image-101 " title="Ayo mANdi" src="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscf75931.jpg?w=480" alt="Ayo mANdi"   /></a><p class="wp-caption-text">Ayo mANdi</p></div>
<div>
<div id="attachment_107" class="wp-caption aligncenter" style="width: 329px"><a href="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dsc003993.jpg"><img class="size-full wp-image-107" title="ReOG DaffA" src="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dsc003993.jpg?w=480" alt="ReOG DaffA"   /></a><p class="wp-caption-text">ReOG DaffA</p></div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarsoep.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarsoep.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarsoep.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarsoep.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarsoep.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarsoep.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarsoep.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarsoep.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarsoep.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarsoep.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarsoep.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarsoep.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarsoep.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarsoep.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=65&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/11/03/photo-gallery/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ebc560ada6878e13c6214e4692257ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbarsoep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/ceria.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Dapidut</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscf75931.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ayo mANdi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dsc003993.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ReOG DaffA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MuSeUM DiRganTAra</title>
		<link>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/11/03/52/</link>
		<comments>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/11/03/52/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 01:53:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbarsoep</dc:creator>
				<category><![CDATA[pHotOS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarsoep.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[ Cita-cita dhek daffa pingin jd tentara, oleh karena itu papa &#38; Mama mengajak dhek daffa ke Museum Dirgantara. Asik loh disana banyak pesawat, mulai dari pesawat tempur s/d pesawat kepresidenan pak Karno (itu loh presiden RI 1). Selain itu juga ada helicopter, peluru kendali dan diorama-diorama perjuangan Indonesia yang berkaitan dengan kedirgantaraan. AYO KE MUSEUM!!!!!!!!!!! <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=52&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"> Cita-cita dhek daffa pingin jd tentara, oleh karena itu papa &amp; Mama mengajak dhek daffa ke Museum Dirgantara. Asik loh disana banyak pesawat, mulai dari pesawat tempur s/d pesawat kepresidenan pak Karno (itu loh presiden RI 1). Selain itu juga ada helicopter, peluru kendali dan diorama-diorama perjuangan Indonesia yang berkaitan dengan kedirgantaraan. AYO KE MUSEUM!!!!!!!!!!! </p>
<div id="attachment_69" class="wp-caption aligncenter" style="width: 320px"><a href="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn5498.jpg"><img class="size-full wp-image-69 " title="miLKuaT" src="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn5498.jpg?w=480" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">miLKuaTdhEK DaFFa, MaMA &amp; PaPA</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarsoep.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarsoep.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarsoep.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarsoep.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarsoep.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarsoep.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarsoep.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarsoep.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarsoep.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarsoep.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarsoep.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarsoep.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarsoep.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarsoep.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=52&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/11/03/52/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ebc560ada6878e13c6214e4692257ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbarsoep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akbarsoep.files.wordpress.com/2008/11/dscn5498.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">miLKuaT</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender</title>
		<link>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/10/31/goyang-poco-poco-dan-kesetaraan-gender-2/</link>
		<comments>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/10/31/goyang-poco-poco-dan-kesetaraan-gender-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 08:50:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbarsoep</dc:creator>
				<category><![CDATA[all aBouT GeNDeR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akbarsoep.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Tiba-tiba saja saya jadi teringat senam poco-poco yang pernah melanda negeri ini. Banyak instansi yang menggelarnya sebagai ajang lomba. Tak sedikit kaum ibu yang menggandrunginya. Berikut ini sekelumit kisah fiktif tentang “Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender” dengan ragam bahasa santai dan “slengekan”; seka dar “jampi sayah” daripada ikut-ikutan mikir hiruk-pikuk bursa saham Asia yang jatuh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=45&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Tiba-tiba saja saya jadi teringat senam poco-poco yang pernah melanda negeri ini. Banyak instansi yang menggelarnya sebagai ajang lomba. Tak sedikit kaum ibu yang menggandrunginya. Berikut ini sekelumit kisah fiktif tentang “Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender” dengan ragam bahasa santai dan “sleng</span><span style="font-family:Arial;">eka</span><span style="font-family:Arial;">n”; s</span><span style="font-family:Arial;">eka</span></span></p>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">dar “jampi sayah” daripada ikut-ikutan mikir hiruk-pikuk bursa saham Asia yang jatuh terguling-guling. Haks, apa hubungannya?)<span id="more-45"></span></span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Pak Bodro geleng-geleng kepala menyaksikan ulah istrinya. </span><span style="font-family:Arial;" lang="IT">Belakangan, Bu Bodro giat berlatih senam poco-poco. Jika hanya dua atau tiga kali seminggu, baginya tak masalah. Tapi hampir setiap sore, perempuan separo baya bertubuh gembrot itu selalu “kabur” dari rumah. Kewajiban rutin menghidangkan cem-ceman teh kesukaannya sudah dilupakan. Malam harinya, Bu Bodro segera mendengkur, lupa menghidangkan santap malam, apalagi melayani hasrat biologis yang sering datang tiba-tiba setiap kali Pak Bodro mencium bau ketiak istrinya itu.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="IT"><span style="font-size:small;">Meski demikian, Pak Bodro tak memiliki nyali menegur istrinya. Lelaki pensiunan pegawai Dinas Sosial itu paham betul tabiat istrinya yang antikritik, alergi nasihat, dan lebih senang didiamkan daripada diberi pepatah-petitih. Bisa-bisa terjadi perang “Bharatayudha” jika sampai Pak Bodro usil mengganggu kesenangannya. Yang dapat dilakukan Pak Bodro hanya membisu, menahan rasa masygul, menimbun kesabaran di rongga dada, sembari menahan kepalanya yang tiba-tiba terasa puyeng.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="IT"><span style="font-size:small;">Suatu sore, Pak Bodro iseng-iseng jagongan dengan Pak Kentring, tetangga sebelah yang kebetulan tengah sibuk menyapu halaman.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="IT"><span style="font-size:small;">“Tumben, kok resik-resik sendiri, Pak? Ibunya anak-anak tindak ke mana?” tanya Pak Bodro memancing obrolan. Pak Kentring yang bertubuh tinggi kurus itu sejenak menghentikan aktivitasnya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="IT"><span style="font-size:small;">“Alah, kayak Pak Bodro nggak tahu aja, kan tadi pergi bareng sama Bu Bodro.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="IT"><span style="font-size:small;">“Senam poco-poco?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;" lang="IT">“Lha iya, toh, Pak. Poco-poco kan lagi digandrungi ibu-ibu! Katanya sih, mer</span><span style="font-family:Arial;" lang="IT">eka</span><span style="font-family:Arial;" lang="IT"> sedang mematangkan tim untuk ikut lomba dengan hadiah total puluhan juta!”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="IT"><span style="font-size:small;">“Oh, begitu!”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="IT"><span style="font-size:small;">“Loh, memang Pak Bodro ndak dikasih tahu sama Ibu?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;" lang="IT">Pak Bodro terdiam. Tenggorokannya terc</span><span style="font-family:Arial;" lang="IT">eka</span><span style="font-family:Arial;" lang="IT">t. Pertanyaan balik Pak Kentring serasa merajam ulu hatinya. Pak Bodro merasa serba salah. Jika Pak Kentring dapat menerima kesibukan baru istrinya, kenapa dirinya jadi uring-uringan?</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="NL"><span style="font-size:small;">“Loh, Pak Bodro kok malah diam?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="NL"><span style="font-size:small;">“Emmm …. Anu, Pak, tiba-tiba saja telinga saya kok merasa enak mendengarkan musik poco-poco,” sahut Pak Bodro tergagap sekenanya. Dari arah rumah Bu RT, terdengar sayup-sayup musik poco-poco yang rancak dan ingar-bingar mengiringi vokal Jopie Latul yang melengking-lengking.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="NL"><span style="font-size:small;">Kedua lelaki separo baya itu terus terlibat obrolan santai. Diam-diam, Pak Bodro mengagumi sikap Pak Kentring yang mau bertukar peran dengan sang istri di rumah. Ketika Bu Kentring pergi, Pak Kentringlah yang membereskan semua pekerjaan rumah tangga, mulai dari mencuci, menyeterika, menyapu, hingga memasak.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="NL"><span style="font-size:small;">“Itu juga yang kami tanamkan kepada anak-anak, Pak. </span></span><span style="font-family:Arial;" lang="FI"><span style="font-size:small;">Pekerjaan di rumah itu bukan melulu urusan kaum perempuan. Lelaki pun harus belajar dan terbiasa untuk mengurus pekerjaan sumur dan dapur,” tegas Pak Kentring mengakhiri obrolan setelah melihat ibu-ibu yang barusan selesai berlatih senam poco-poco sudah tiba di rumah.<br />
***</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI"><span style="font-size:small;">Obrolan santai dengan Pak Kentring dapat mencairkan rasa masygul yang belakangan ini membeku di dada Pak Bodro. Dengan wajah sumringah, dia bergegas menyambut kepulangan istrinya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI"><span style="font-size:small;">“Poco-poconya tadi ramai, Bu? Banyak yang ikut latihan?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">“Alah, s</span><span style="font-family:Arial;" lang="FI">eka</span><span style="font-family:Arial;" lang="FI">rang nggak usah poco-pocoan, bikin mangkel aja!” sahut Bu Bodro sewot. Pak Bodro tersentak.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI"><span style="font-size:small;">“Loh, memangnya kenapa, Bu?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">“Bu RT nggak adil. Masak saya yang setiap sore latihan, malah nggak dipilih jadi anggota tim lomba. Dasar gombal! Mer</span><span style="font-family:Arial;" lang="FI">eka</span><span style="font-family:Arial;" lang="FI"> yang malas latihan, gerakannya kaku, dan menyebalkan malah dipilih, huh! Jika gerakanku kurang luwes, mbok ya dibetulkan. Tidak lantas main coret begitu aja pada orang yang sudah susah-susah ikut latihan!”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI"><span style="font-size:small;">“Ya, biar toh, Bu. Nggak ikut lomba poco-poco juga nggak patheken saja, kok!”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">“Bukan itu masalahnya, Pak. Aku malu sama Bu Kentring, Bu Hono, Bu Hadi, dan Bu Jatmin, yang setiap sore berangkat sama-sama. Mer</span><span style="font-family:Arial;" lang="FI">eka</span><span style="font-family:Arial;" lang="FI"> pada dipilih, lha kok saya nggak. Apa itu nggak sama saja Bu RT melempari telur busuk ke wajah saya, hem? Pokoknya, saya protes sama Bu RT!”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">“Sudahlah, Bu. Terima saja keputusan Bu RT. </span><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Protes juga nggak bakalan menyelesaikan masalah. Ibu harus ikhlas!”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">“Tidak! Jika saya nggak diikutkan, saya menuntut agar Bu Kentring, Bu Hono, Bu Hadi, dan Bu Jatmin, juga harus dikeluarkan dari tim. Itu baru adil namanya. Sudah, Pak. Saya nggak mau berdebat, mau mandi!” sergah Bu Bodro sambil berjingkat menuju ke kamar mandi. Pintu dibanting keras-keras untuk melampiaskan kekecewaannya. Pak Bodro tergagap seraya mengelus dada. Sulit rasanya memberikan pengertian kepada istrinya itu. Jika suasana sudah “menc</span><span style="font-family:Arial;" lang="SV">eka</span></span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">m” demikian, Pak Bodro tak bisa berbuat apa-apa.<br />
</span><span style="font-family:Arial;">***</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Di halaman rumah Bu RT, musik poco-poco yang khas kembali membahana. Dengan penuh semangat, ibu-ibu yang telah terpilih menjadi anggota tim lomba serentak menggerakkan tubuh mengikuti irama. Langkah kaki, goyang pinggul, dan gerak tangan mer</span><span style="font-family:Arial;">eka</span><span style="font-family:Arial;"> semakin rancak dan kompak. Tiba-tiba iringan musik terhenti. Mer</span><span style="font-family:Arial;">eka</span><span style="font-family:Arial;"> tersentak ketika melihat Bu Bodro dengan wajah memerah saga berdiri di depan Bu RT sambil berkacak pinggang.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span style="font-size:small;">“Saya protes, Bu RT. Kenapa saya nggak diikutkan dalam tim? Apa gerakan tubuh saya kurang luwes atau memang Bu RT tidak senang dengan saya, hem? Jika Bu Kentring, Bu Hono, Bu Hadi, dan Bu Jatmin saja diikutkan, kenapa saya tidak?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span style="font-size:small;">“Sabar. Bu, sabar! Bukan hanya saya yang mengambil keputusan itu, tapi juga ibu-ibu peserta yang lain, termasuk Bu Kentring, Bu Hono, Bu Hadi, dan Bu Jatmin.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span style="font-size:small;">“Betuuuuul …..,” sahut ibu-ibu yang lain serempak.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span style="font-size:small;">“Alasannya apa, ibu-ibu yang saya hormati? Apa lantaran tubuh saya yang gembrot begini atau kehadiran saya di kampung ini memang sudah tidak dikehendaki?”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span style="font-size:small;">“Bukan, bukan itu, Bu! Penyebabnya hanya lantaran Pak Bodro tidak berkenan jika Ibu menjadi anggota tim.”</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span style="font-size:small;">Tanpa ba-bi-bu, Bu Bodro segera balik kanan dan berjingkat menuju ke rumah. Pak Bodro yang tengah asyik menonton tayangan berita di televisi tersentak ketika mendengar pintu depan dibanting keras-keras. Pak Bodro segera berdiri. Belum sempat bertanya, Bu Bodro sudah mencecarnya dengan setumpuk caci-maki yang memerahkan telinga.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Pak Bodro hanya bisa termangu seperti keledai dungu. </span><span style="font-family:Arial;" lang="PT-BR">Dia membiarkan saja sang istri mengumbar amarah. Pak Bodro tidak tahu, apakah emosi istrinya yang gampang tersulut itu gara-gara demam poco-poco yang gagal menaikkan gengsi dan harga dirinya? </span><span style="font-family:Arial;">Entahlah! ***</span></span></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akbarsoep.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akbarsoep.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akbarsoep.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akbarsoep.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akbarsoep.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akbarsoep.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akbarsoep.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akbarsoep.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akbarsoep.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akbarsoep.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akbarsoep.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akbarsoep.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akbarsoep.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akbarsoep.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akbarsoep.wordpress.com&amp;blog=3909911&amp;post=45&amp;subd=akbarsoep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akbarsoep.wordpress.com/2008/10/31/goyang-poco-poco-dan-kesetaraan-gender-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ebc560ada6878e13c6214e4692257ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbarsoep</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
